
Hari itu, halaman Madrasah penuh canda dan tepuk tangan. Rapor sudah dibagikan, semester telah berakhir, dan liburan resmi dimulai. Di antara siswa-siswi yang menenteng map hijau dan senyum yang sumringah, dua sahabat, Arsal dan Fikri, saling tos dengan semangat.
“Kita libur! Akhirnya!†seru Arsal, berputar di halaman madrasah sambil tertawa. Fikri hanya mengangguk, “Tapi jangan cuma tidur ya, Sal. Ibu di rumah pasti sudah siapin daftar tugas.â€
Hari-hari libur di Pedesaan punya warna tersendiri. Tak seperti anak kota yang larut dalam gadget dan mall, anak-anak ini lebih dekat dengan tanah, air, dan udara segar dari bukit yang mengelilingi desa. Pagi-pagi buta, Arsal sudah membantu ibunya menyapu halaman dan mengikat kayu bakar. Fikri, di sisi lain, ikut bapaknya ke ladang kopi, memetik buah yang sudah merah ranum dengan jemari kecilnya.
“Lihat, Sal! Kopi tahun ini lebih banyak!†seru Fikri sambil memasukkan biji ke dalam karung kecil. Arsal tertawa, “Kalau udah dipetik, jangan lupa sesekali mencicipinya juga, ya!â€
Siang harinya, mereka berkumpul di pos ronda yang teduh, duduk melingkar bersama empat teman lain. Di tangan mereka bukan ponsel, tapi kertas-kertas ujian kemarin yang masih penuh coretan. “Kita review bareng yuk, semester depan jangan salah lagi di soal seperti ini,†kata Nizar, si jago matematika. Dan belajar kelompok pun dimulai—dengan sesekali diselingi lelucon dan suara ayam berkokok dari kejauhan.
Sore menjelang, saat matahari mulai condong ke barat, mereka beramai-ramai menuju sungai di bawah lembah. Hamparan sawah hijau membentang seperti permadani alami. Di kejauhan, suara riang anak-anak menggema di antara bunyi air yang mengalir deras dari celah batu. Mereka mandi, bermain rakit dari batang pisang, dan bahkan berlomba menangkap ikan kecil dengan tangan kosong.
Salah satu momen terbaik adalah saat malam menjelang dan langit penuh bintang. Mereka duduk di bale bambu, menikmati pisang goreng dan teh panas. Tak ada sinyal Wi-Fi, tapi kehangatan persahabatan dan tawa tulus tak pernah putus.
📌
Liburan bukan hanya tentang bersenang-senang,
tapi juga tentang kembali ke akar—membantu orang tua, belajar dari alam, dan memperkuat persahabatan.
Di antara sawah dan sungai, mereka menemukan arti libur yang sesungguhnya:
mengisi hari dengan hal-hal baik, dan menyambut semester baru dengan hati yang lebih siap.
|
406x
Dibaca |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...