
Namaku Anzar, anak nomor dua dari tiga bersaudara. Aku tinggal di sebuah desa bernama Kemantan Tinggi, desa yang tenang di lereng perbukitan, dikelilingi sawah yang luas dan udara yang segar. Hari-hariku selama libur semester dipenuhi rutinitas sederhana: membantu ibu menjemur padi, ikut ayah ke ladang kopi, atau menemani adik-adik bermain layang-layang di halaman rumah.
Tapi ada satu hal yang membuat liburan ini terasa berbeda.
Aku akan masuk MTsN 1 Kerinci.
Bukan sekadar sekolah baru—ini madrasah yang sejak lama kutunggu.
Setiap kali melewati gerbang madrasah saat ikut ibu ke pasar, aku selalu memandang ke dalam. Seragam putih-biru para siswa, pagar hijau dengan papan nama yang rapi, dan suara lonceng yang terdengar dari kejauhan—semuanya membuatku bertanya-tanya: seperti apa rasanya jadi bagian dari tempat itu?
Kakakku, Rahmat, pernah sekolah di sana. Ia sering menceritakan tentang suasana upacara, kegiatan keagamaan, hingga lomba antar kelas. Katanya, belajar di madrasah itu bukan cuma tentang nilai pelajaran, tapi juga tentang membentuk hati dan sikap. Cerita-ceritanya menanamkan harapanku, hingga aku rajin belajar demi lulus dan diterima di sana.
Dan akhirnya, hari itu hampir tiba.
Ibu menyiapkan semua keperluanku sejak seminggu sebelumnya: baju yang disetrika rapi, sepatu baru yang masih wangi karet, tas yang dijahitkan ulang agar kuat. Di malam sebelum masuk sekolah, aku bahkan tak bisa tidur. Aku membuka map kecil berisi fotokopi akta dan ijazah lama—seperti sedang menyiapkan diri untuk masuk ke babak baru kehidupan.
“Besok kamu bukan anak SD lagi, Zar. Kamu sudah jadi santri muda di madrasah,†kata ayah sambil menepuk bahuku. Kata-katanya sederhana, tapi ada rasa haru yang menyeruak.

Pagi pun datang. Langit cerah, embun masih menempel di ujung dedaunan.
Aku melangkah ke madrasah bersama ayah dan ibu. Di sepanjang jalan, beberapa teman seangkatanku juga tampak berjalan, sebagian ditemani orang tua mereka, sebagian lainnya berbonceng sepeda motor. Kami saling melempar senyum—seperti tahu, bahwa semuanya sama-sama sedang menyembunyikan gugup.
Sesampainya di madrasah, halaman sudah ramai. Para guru berdiri di depan barisan siswa baru, menyambut kami satu per satu. Aku berdiri kaku, lalu duduk di barisan sesuai nomor urut yang dibagikan. Tak lama kemudian, suara pembina upacara menggema:
“Selamat datang siswa baru MTsN 1 Kerinci. Kalian adalah generasi penerus.
Semangat kalian hari ini, akan menentukan langkah besar di masa depan.â€

Aku menggenggam jemari sendiri, mencoba menenangkan diri. Tapi ketika kulihat sekeliling, aku mulai tenang. Di sini, aku tidak sendiri. Di sini, aku akan tumbuh, belajar, dan menemukan kisahku sendiri.
Ketika upacara selesai, kami diajak mengenal lingkungan madrasah: ruang kelas, mushola, perpustakaan, taman madrasah, dan tempat wudhu. Saat melewati dinding yang penuh karya seni dan foto kegiatan siswa, hatiku bergetar.
Aku tahu, suatu hari nanti, fotoku akan ada di situ juga.
Dan hari itu pun berakhir dengan perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya: bahagia, gugup, bangga, dan siap.
📌 Setiap langkah menuju tempat baru memang menakutkan di awal.
Tapi saat kamu punya semangat, doa orang tua, dan lingkungan yang mendukung…
Kamu tak hanya masuk sekolah baru—kamu sedang membangun masa depanmu.
Selamat datang di madrasah. Di sinilah tempatmu bertumbuh. 🌱
|
188x
Dibaca |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...