
Kabut pagi masih menyelimuti halaman MTsN 1 Kerinci ketika lonceng masuk berbunyi pelan. Udara sejuk Kemantan membawa aroma embun dan suara langkah kaki para siswa yang mulai memenuhi koridor. Aku berjalan sambil menunduk, menatap ujung sepatu yang terasa berat. Hari ini ada ujian mata pelajaran Bahasa Inggris, dan entah kenapa perasaanku tidak tenang.
Semalam aku sudah belajar, tapi pikiran ini seperti tertutup awan gelap. Aku takut gagal. Aku takut mengecewakan orang tua. Tapi yang paling kutakutkan, aku takut pada diriku sendiri — takut kalau ternyata aku memang tidak mampu.
Setibanya di depan kelas, kulihat Ibu Leviana, guru BK kami, berdiri sambil menyapa siswa satu per satu.
“Pagi, Nak. Sudah siap ujian?” tanyanya ramah.
Aku hanya tersenyum ragu.
Beliau menatapku sejenak, lalu berkata, “Jangan biarkan rasa takutmu lebih besar dari usahamu. Kadang, kita hanya butuh percaya sedikit lagi pada diri sendiri.”
Ucapan itu seperti lilin kecil di dalam pikiranku. Aku mengangguk, lalu masuk ke kelas dengan napas yang lebih teratur.
Beberapa menit kemudian, Ibu Atika, guru Bahasa Inggris kami, masuk membawa tumpukan lembar soal. Beliau tersenyum, seperti biasa — tenang dan penuh semangat.
“Anak-anak, hari ini bukan waktunya takut. Hari ini waktunya kalian menunjukkan hasil dari proses yang sudah dijalani. Kalau sudah berusaha, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucapnya lembut sebelum membagikan soal.
Suasana kelas berubah hening. Hanya terdengar suara kertas dan goresan pena. Tapi dalam hati, aku masih sedikit ragu. Mataku terpaku pada soal nomor dua yang tampak asing. Aku menarik napas dalam-dalam, mengingat kata-kata Ibu Leviana dan Ibu Atika. Perlahan, aku mulai menulis.
Satu per satu soal kujawab, dengan penuh hati-hati tapi juga dengan keyakinan. Aku tidak tahu apakah jawabanku benar semua, tapi aku tahu aku sudah berusaha sebaik mungkin. Ketika waktu habis, aku menyerahkan kertas itu dengan senyum kecil — bukan karena yakin akan nilai tinggi, tapi karena aku telah melawan rasa takutku sendiri.
Sebelum keluar kelas, Ibu Atika sempat berkata,
“Nilai bisa naik turun, tapi semangat dan kejujuran itu yang menentukan masa depanmu.”
Kalimat itu membuatku menunduk haru.
Di luar kelas, aku kembali berpapasan dengan Ibu Leviana.
“Nah, gimana? Sudah lega?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk, “Iya, Bu. Terima kasih... rasanya lebih tenang sekarang.”
Beliau tersenyum dan menepuk pundakku,
“Itulah gunanya belajar — bukan hanya tentang pelajaran di buku, tapi tentang cara memahami diri sendiri.”
Hari itu aku belajar sesuatu yang tidak tertulis di buku manapun:
bahwa guru bukan hanya pengajar, tapi penerang.
Mereka menuntun kami melewati kabut ragu menuju cahaya keyakinan — bahwa setiap langkah kecil pun bernilai, selama dilakukan dengan keikhlasan dan semangat.
✨ Catatan:
Cerita ini merupakan bagian dari seri Madrasah Bercerita — kisah fiksi yang terinspirasi dari keseharian siswa di MTsN 1 Kerinci.
|
54x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...