
Pagi Selasa itu, udara di MTsN 1 Kerinci masih lembut dan sedikit berkabut. Di sudut halaman madrasah, beberapa siswa sudah duduk rapi dalam kelompok kecil, masing-masing memegang mushaf. Suasana tenang itu menandakan satu hal: kegiatan Tahfidz akan segera dimulai.
Di antara para siswa itu, ada seorang anak kelas VII bernama Andes. Ia bukan yang paling cepat menghafal, dan bukan pula yang paling percaya diri. Namun sejak pertama kali mengikuti kegiatan Tahfidz, ada sesuatu yang membuatnya selalu kembali duduk di barisan itu—semacam rasa tenang yang hanya muncul saat ia membuka mushaf.
“Andes, sudah siap?” suara lembut Ibu Laila, pembimbing kelompok pagi itu, menyadarkannya dari lamunan.
Andes mengangguk pelan. Hari ini ia harus menyetorkan hafalan barunya, surat Al-Ghasyiyah, yang semalam hanya sempat ia ulang beberapa kali sebelum matanya berat.
Ketika gilirannya tiba, Andes menarik napas dalam. Ia membaca perlahan, sesekali berhenti untuk mengingat, tapi tetap berusaha menyelesaikannya. Ibu Laila mendengarkan dengan penuh kesabaran, membetulkan bacaan Andes dengan nada halus dan ramah, tanpa membuatnya merasa salah.
“Bagus, Andes. Tidak perlu terburu-buru. Yang penting hatinya ikut membaca,” ucap Ibu Laila sambil tersenyum hangat.
Kata-kata itu membuat dada Andes terasa lebih ringan. Setelah selesai, ia kembali ke tempat duduk. Saat membuka kembali mushafnya, ia menemukan selembar kertas kecil terselip di antara halaman-halamannya. Tulisannya sederhana:
“Setiap ayat yang kamu hafalkan adalah cahaya yang kamu kumpulkan. Mungkin sedikit, tapi suatu hari cahaya itu akan menerangi jalanmu.”
Andes terpaku. Ia tidak tahu siapa yang menuliskan pesan itu, tetapi ia merasakan dorongan kuat untuk tidak menyerah.
Ketika kegiatan Tahfidz selesai dan bel masuk berbunyi, siswa-siswa bergegas menuju kelas. Di tengah keramaian itu, Bapak Khustian, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, melintas sambil menepuk bahu beberapa siswa.
“Ayo semangat. Menghafal Al-Qur’an itu bukan perlombaan. Yang penting istiqamah,” katanya sambil tersenyum.
Ucapan itu seolah menjadi lanjutan dari pesan misterius di mushaf Andes.
Sepanjang hari, Andes tidak berhenti memikirkan kertas kecil itu. Ia menyimpannya di saku, merapikannya berkali-kali, seperti menyimpan sesuatu yang sangat berharga. Baginya, pesan itu bukan sekadar kata-kata—melainkan pengingat bahwa setiap usaha sekecil apa pun dihargai.
Sejak hari itu, setiap Selasa dan Rabu pagi ketika kegiatan Tahfidz dimulai, Andes tidak lagi sekadar membaca. Ia merasa sedang mengumpulkan cahaya—pelan-pelan, sedikit demi sedikit—untuk masa depannya.
Sebuah “surat kecil” yang mengubah langkahnya.
|
447x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...