
Pagi itu kabut masih menggantung tipis di lereng bukit Kayu Aro. MTsN 1 Kerinci tampak seperti berdiri di tengah negeri dongeng—sejuk, tenang, dan dikelilingi hijau pepohonan. Di halaman madrasah, seorang siswi bernama Alya berjalan cepat sambil memeluk buku gambar. Hari ini adalah hari yang ia nanti-nantikan: Pameran Karya Kreatif Siswa.
Alya dikenal sebagai siswi yang pendiam. Ia tidak pandai berbicara di depan banyak orang, tapi tangannya mampu bercerita lewat gambar. Ia sering duduk di bawah pohon jambu dekat mushala, menggambar apa pun yang menginspirasi hatinya—gunung, awan, dan kehidupan kecil di madrasah.
Namun, seminggu sebelum pameran, sebuah kejadian membuatnya gelisah. Ketika pulang sekolah, hujan deras turun tiba-tiba, mengguyur semua orang. Tas Alya basah kuyup. Buku gambarnya pun rusak. Karyanya hancur, warnanya luntur, dan kertasnya kisut. Ia menangis diam-diam di kamar, merasa usahanya sia-sia.
Keesokan harinya, Alya duduk di bangkunya dengan wajah murung. Temannya, Rafi, menepuk bahunya pelan.
“Alya, kamu kenapa?”
Ia menggeleng. “Buku gambarku… rusak semua.”
Rafi tersenyum, “Kalau rusak, buat yang baru. Bukankah kamu selalu bilang inspirasi datang dari mana saja?”
Alya terdiam. Ia tak menyangka kalimat sederhana itu seperti percikan cahaya.
Sepulang sekolah, ia duduk kembali di bawah pohon jambu. Angin sore menerbangkan daun-daun kuning. Dari kejauhan, terdengar suara siswa berlatih marawis. Ada yang menyapu halaman, ada yang merawat tanaman ecobrick di taman madrasah. Semua terlihat seperti potongan kehidupan yang indah.
Perlahan, Alya membuka buku gambarnya yang baru. Ia menggambar halaman madrasah, teman-temannya, dan kegiatan sederhana yang membuatnya merasa pulang. Ia menggambar pelangi besar di atas gedung madrasah—pelangi harapan, pelangi semangat yang tak hilang meski hujan mengguyur.
Satu minggu kemudian, pameran pun digelar. Ruang aula penuh dengan karya seni, kerajinan ecobrick, poster ilmiah, dan foto kegiatan madrasah. Karya Alya dipajang di tengah ruangan. Banyak siswa dan guru berhenti di depan gambarnya.
“Indah sekali,” kata Bu Rahma, guru seni. “Kamu menggambar apa yang tidak semua orang sempat melihat: kehangatan di madrasah ini.”
Alya menunduk malu, tapi hatinya berdebar bahagia.
Saat pengumuman tiba, namanya disebut sebagai Juara 1 Karya Kreatif MTsN 1 Kerinci. Tepuk tangan memenuhi ruangan. Air mata hangat mengalir di pipinya, bukan karena sedih, tapi karena ia merasa diterima dan dihargai.
Ketika ia berdiri di panggung kecil madrasah, pelangi senja muncul di langit Kerinci. Seakan ikut merayakan keberaniannya.
Alya tersenyum.
Ia tahu kini, setiap hujan akan selalu membawa pelangi—asal ia tak berhenti mencoba.
|
40x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...