
Di MTsN 1 Kerinci, hari itu suasananya berbeda. Angin pagi terasa lebih dingin, dan halaman madrasah tampak lebih ramai daripada biasanya. Para siswa saling menenteng buku ringkasan, ada yang berdoa pelan, ada yang sekadar bengong sambil berharap materi yang dipelajari semalam tidak menguap begitu saja.
Di antara mereka, Andes, siswa kelas VIII yang biasanya santai, justru terlihat paling gelisah. Dari tadi ia membuka–tutup buku catatan seolah mencari keberanian yang entah hilang di halaman mana.
“Des… kau kenapa?” tanya seorang temannya.
Andes hanya tertawa kecil, “Aku belajar… tapi rasanya nggak masuk semua. Takut salah, takut nge-blank.”
Temannya menepuk bahunya. “Ujian itu bukan cuma soal hafal materi, Des. Yang penting mental.”
Andes masih diam. Ia tahu temannya benar, tapi tetap saja dadanya terasa berat.
Tak lama kemudian, bel madrasah berbunyi. Suaranya khas—tegas, tapi hangat. Suara yang selama ini dianggap Andes hanya sebagai tanda masuk atau tanda istirahat, hari itu terasa seperti tanda dimulainya perjalanan baru.
Saat di kelas, pengawas ujian masuk. Hari ini, pengawasnya adalah Ibu Laila, guru keagamaan yang dikenal lembut tapi tegas. Senyum Ibu Laila menenangkan, tapi juga membuat para siswa mengatur duduk lebih rapi.
“Anak-anak,” ucap beliau sambil menatap satu per satu, “hari ini bukan sekadar kalian diuji tentang pelajaran. Yang diuji itu kesabaran, kejujuran, dan keyakinan kalian bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil.”
Andes spontan menatap ke depan. Kata-kata itu seperti menampar pikirannya.
Ujian pun dimulai.
Di menit-menit pertama, Andes merasa kepalanya kosong. Soal pertama tampak asing, padahal itu materi yang ia baca semalam. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia meletakkan pensil, menarik napas panjang. Dalam hati ia teringat ucapan Ibu Laila:
“Yang diuji bukan cuma hafalan… tapi keyakinan.”
Perlahan, ia mulai menenangkan diri. Ia membaca ulang soal pertama… dan tiba-tiba semuanya terasa lebih jelas. Satu per satu soal ia jawab dengan lebih yakin. Bukan sempurna, tapi dengan usaha yang jujur.
Waktu berjalan cepat. Ketika bel tanda selesai ujian berbunyi, Andes menatap lembar jawabannya sambil tersenyum kecil. Entah nilainya nanti tinggi atau tidak, tapi ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Saat keluar kelas, Ibu Laila memanggilnya pelan.
“Andes,” katanya dengan suara lembut, “tadi Ibu lihat kamu gelisah di awal, tapi kamu bisa mengatasi diri. Ingat… hidup itu penuh ujian. Kalau kau sudah berani menghadapi yang kecil seperti ini, insyaAllah kau siap menghadapi yang besar nantinya.”
Andes hanya bisa mengangguk. Kata-kata itu seperti membuka pintu baru dalam pikirannya.
Hari itu, ia pulang dengan perasaan berbeda. Ujian bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Justru dari ujianlah ia belajar tentang diri sendiri.
Dan sejak hari itu, Andes selalu percaya:
“Terkadang, yang berubah bukan hasil ujian… tapi cara kita melihat hidup setelah menghadapinya.
|
52x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...