
Di sebuah madrasah yang sejuk dan penuh kedisiplinan, MTsN 1 Kerinci, hiduplah seorang siswi bernama Alya. Ia dikenal pendiam, namun memiliki ketekunan yang jarang dimiliki anak seusianya. Semester ganjil semakin dekat, dan seluruh siswa tampak sibuk mempersiapkan diri. Suasana belajar di madrasah terasa lebih serius dari biasanya.
Namun di balik keramaian itu, Alya justru memilih untuk menulis. Di kamar kecilnya yang diterangi lampu belajar redup, ia menyiapkan selembar kertas putih. Di sanalah ia menulis sebuah surat kecil—penguat hati untuk menghadapi ujian semester di MTsN 1 Kerinci.
“Untuk Semester Ganjil di MTsN 1 Kerinci,
Aku tidak tahu apakah aku sudah benar-benar siap. Terkadang aku takut, terkadang aku terlalu ragu. Tapi aku ingin mencoba sebaik yang aku mampu.
Jika nanti aku lelah, ingatkan aku bahwa setiap usaha yang kulakukan tidak pernah sia-sia. Jika aku mulai merasa kecil, ingatkan aku bahwa aku sudah berjalan sejauh ini.
Surat kecil ini adalah janji: aku akan jujur, berusaha, dan tidak menyerah.
Dari aku, yang sedang belajar percaya pada diri sendiri.”
Setelah menutup surat itu, Alya merasakan ketenangan yang asing namun menyenangkan. Ia melipatnya dan memasukkan dengan hati-hati ke balik buku catatan yang selalu ia bawa ke madrasah.
Hari ujian tiba. Gedung MTsN 1 Kerinci dipenuhi aura serius. Siswa-siswi memasuki kelas dengan wajah tegang. Di dalam ruang ujian, bunyi gesekan pulpen dan detik jam dinding seakan menjadi musik latar.
Alya duduk di bangku tengah. Sebelum memulai, ia mengintip tasnya dan menyentuh lipatan surat kecil itu. Hatinya hangat.
“Bismillah,” gumamnya pelan.
Soal demi soal ia kerjakan. Saat bertemu pertanyaan sulit, ia menarik napas dalam, mengingat kalimat dalam surat kecil itu: “Aku akan jujur, berusaha, dan tidak menyerah.” Dan benar, perlahan ia menemukan cara menjawabnya.
Beberapa hari kemudian, hasil ujian dibagikan. Alya tidak menjadi yang terbaik, tetapi nilainya jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Ia pulang dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan.
Di rumah, ia membuka kembali surat kecil itu dan menambahkan catatan baru:
“Terima kasih, untuk diriku sendiri yang tidak berhenti berjuang di MTsN 1 Kerinci.”
Sejak hari itu, setiap kali ujian semester datang, Alya selalu menulis surat kecil baru. Di tengah kesibukan MTsN 1 Kerinci, ia belajar bahwa keberanian tidak selalu datang dari orang lain—kadang, datang dari kata-kata sederhana yang ia tulis sendiri.
Penulis : TrisaAmelia
|
37x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...