
Lorong madrasah itu selalu punya cerita. Setiap pagi, suara langkah kaki para siswa bersatu dengan tawa, sapaan, dan mimpi-mimpi yang masih hangat. Di balik dinding berwarna hijau muda, tersimpan jejak-jejak kenangan yang tak pernah pudar�termasuk cerita dari empat sahabat: Arfa, Amira, Nabil, dan Allya.
Mereka selalu berangkat lebih awal dari teman-teman lainnya. Bukan karena ingin terlihat rajin, tapi karena lorong madrasah adalah tempat paling nyaman untuk memulai hari. Di sana, mereka berbagi cerita tentang pekerjaan rumah yang belum selesai, membahas guratan awan pagi, hingga merencanakan hal-hal kecil yang membuat hari terasa berwarna.
�Lorong ini saksi tawa kita,� kata Nabil suatu pagi sambil menyandarkan tas ke dinding.
�Hari ini pasti jadi hari yang seru,� tambah Amira dengan semangat.
Namun tidak setiap hari dihiasi tawa. Pernah suatu waktu, Arfa tampak murung. Nilai ulangannya turun drastis, dan semangatnya seakan menguap. Lorong itu pun sepi pagi itu, seakan ikut merasakan retaknya hati sang pemilik tawa paling ceria.
�Gak apa-apa, Fa. Nilai itu bukan akhir segalanya,� ucap Allya pelan.
�Ayo kita belajar bareng nanti sore,� sambung Amira.
�Kalau kamu jatuh, kita siap jadi alas agar kamu gak sakit,� tutup Nabil tersenyum.
Ucapan itu mengubah suasana. Tawa kembali bergema di lorong madrasah. Sejak hari itu, mereka semakin erat. Belajar bersama di kelas, istirahat bersama di kantin, bahkan doa bersama di musholla�semua dilakukan dengan satu hal yang sama: kebersamaan.
Hari demi hari berlalu. Jejak tawa mereka semakin kuat tertinggal. Guru-guru pun sering melihat mereka membantu teman yang kesulitan, menyambut adik-adik kelas yang malu berjalan sendiri di lorong, bahkan sesekali menyapu lantai madrasah tanpa diminta.
Di akhir semester, mereka dinobatkan sebagai kelompok siswa paling inspiratif. Saat nama mereka disebut, lorong itu kembali dipenuhi tepuk tangan dan tawa.
Setelah acara selesai, mereka berdiri berempat di tempat yang selalu mereka cintai�lorong madrasah MTSN 1 Kerinci.
�Kalau kita lulus nanti�� ucap Amira pelan, �akankah tawa kita masih tertinggal di sini?�
Nabil tersenyum menatap dinding lorong yang mulai usang.
�Jejak tawa gak akan hilang,� katanya. �Karena madrasah ini bukan hanya tempat belajar, tapi rumah yang pernah menyimpan mimpi kita.�
Mereka terdiam sejenak. Hembusan angin sore menyapa lembut, seolah madrasah pun ikut mengucapkan terima kasih.
Dan sejak hari itu, setiap siswa baru yang melintas di lorong MTSN 1 Kerinci selalu merasa aneh�entah kenapa tempat itu terasa hangat. Seolah ada tawa yang masih tertinggal�
tawa empat sahabat yang pernah menjadikan lorong itu bagian dari hidup mereka.
Tim Humas
Penulis: Weni Lesfiana, S.Pd
|
29x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Kerinci dan Sekitarnya
Memuat tanggal...